image description
image
  • 2024-12-10 11:00:00
  • Chindya Paramitha Devi
  • 1064
  • Kegiatan Mahasiswa
MINUMAN TINGGI GULA BERDAMPAK PADA DIABETES DAN GINJAL

Diabetes melitus, penyakit yang semakin marak di kalangan remaja, seringkali dikaitkan dengan gaya hidup tidak sehat, salah satunya adalah konsumsi minuman manis berlebihan. Minuman ini, yang kaya akan gula tambahan, memberikan kalori kosong yang dapat menyebabkan penumpukan lemak, terutama di area perut. Kondisi ini memicu obesitas, salah satu faktor risiko utama diabetes tipe 2. Gula berlebih dalam darah dapat mengganggu fungsi ginjal secara signifikan. Ginjal, sebagai organ penyaring darah, memiliki tugas berat untuk memproses kelebihan gula. Ketika ginjal terus-menerus bekerja ekstra keras, filter-filter halus di dalamnya (nefron) dapat rusak. Kerusakan nefron ini menyebabkan penurunan kemampuan ginjal dalam menyaring limbah dan kelebihan cairan dari darah.


Selain itu, gula berlebih juga dapat memicu peradangan kronis di dalam tubuh, termasuk pada ginjal. Peradangan ini dapat merusak jaringan ginjal secara perlahan. Selain itu, gula juga dapat meningkatkan tekanan darah, yang merupakan faktor risiko utama kerusakan ginjal. Jika kerusakan ginjal sudah parah dan tidak dapat diatasi dengan pengobatan, pasien akan membutuhkan cuci darah. Cuci darah adalah prosedur medis di mana darah dikeluarkan dari tubuh, dibersihkan dari zat-zat sisa, dan kemudian dikembalikan ke tubuh. Prosedur ini dilakukan secara teratur dan membutuhkan waktu yang cukup lama. Cuci darah bukanlah penyembuhan, melainkan hanya cara untuk mempertahankan hidup bagi pasien dengan gagal ginjal.


Remaja dengan metabolisme yang cepat dan gaya hidup yang aktif, seringkali mengonsumsi minuman manis dalam jumlah yang cukup banyak. Kebiasaan ini, jika terus berlanjut, dapat menyebabkan kerusakan ginjal sejak usia muda. Selain itu, remaja juga cenderung kurang peduli terhadap kesehatan jangka panjang dan lebih mementingkan kesenangan sesaat.


Untuk mencegah kerusakan ginjal akibat konsumsi minuman manis, beberapa langkah penting dapat dilakukan, antara lain: 

1.   Kurangi konsumsi minuman soda, jus buah kemasan, dan minuman berenergi, sebaliknya perbanyak konsumsi air putih, teh tanpa gula, atau infus buah.

2.  Selalu perhatikan kandungan gula dalam makanan dan minuman sebelum membeli. 

3. Jaga berat badan ideal, olahraga secara teratur, dan konsumsi makanan sehat.[1]


Penulis: Ardiyanti Kirana Rifai (mahasiswi semester 1 Program Studi S1 Gizi Universitas Ngudi Waluyo)

Referensi:
[1]Viner, R. M., et al. (2019). Sugar-sweetened beverage consumption and metabolic syndrome in children and adolescents. Journal of Adolescent Health.
Kearney, P. M., et al. (2021). Energy drinks and kidney function in adolescents: A case-control study. Pediatric Nephrology.
Yadav, S., et al. (2020). High sugar consumption and chronic kidney disease in adolescents. BMC Nephrology.
Setyanurlia, R., & Sumarmi, S. (2020). Hubungan Antara Pengetahuan dan Sikap terhadap Perilaku Konsumsi Sugar Sweetened Beverages (SSB) pada Wanita Usia Produktif di Kota Surabaya. Diakses dari Universitas Airlangga.



Kategori

Program Studi S1 Gizi

  • Jl. Diponegoro no 186 Gedanganak - Ungaran Timur, Kab. Semarang Jawa Tengah
  • Tel: 085641314969
  • Fax: (024)-6925408
  • Email: [email protected]

SOSIAL MEDIA


UNIVERSITAS NGUDI WALUYO © Program Studi S1 Gizi 2023